www.sportjatim.com

Switch to desktop

Liga Nusantara: Arena Hidup atau Mati!

REVOLUSI sepakbola amatir Indonesia segera bergolak hebat. Tidak ada tempat lagi bagi klub miskin. “Seleksi alam bakal terjadi di pentas Liga Nusantara edisi perdana yang rencananya akan dimulai 4 April 2014,” tutur dr Wardy Ashari Siagian, Exco Asosiasi PSSI Provinsi Jatim kepada sportjatim, Kamis 3 April 2014 malam.

Telah diberitakan bahwa Liga Nusantara adalah arena kompetisi bagi seluruh klub sepakbola amatir Indonesia, mulai Divisi 3, Divisi 2, sampai Divisi 1. Babak penyisihan diselenggarakan oleh Asprov PSSI masing-masing. Putaran final diselenggarakan langsung oleh PSSI (Pusat).

Di Jatim diperkirakan 40 sampai 50 klub amatir akan mengikuti Liga Nusantara edisi perdana (2014). Mereka dibagi dalam 4 atau 5 grup. Per grup bermuatan 10 klub. Hanya juara grup yang lolos ke putaran final.

PSSI mengubah pengelolaan dan format kompetisi liga amatir. Jika semula kompetisi amatir dikelola oleh Badan Liga Amatir Indonesia (BLAI), maka mulai kompetisi tahun 2014 ini, fungsi Badan Liga Amatir akan diambil alih oleh Departemen Khusus Kompetisi.

BLAI dibubarkan! BLAI menjadi korban pertama revolusi sepakbola amatir Indonesia. Korban selanjutnya segera menyusul, yaitu klub-klub yang tidak memperoleh dukungan finansial yang tangguh. “Biaya yang harus dibelanjakan oleh setiap klub akan  jauh lebih besar dari pada kompetisi amatir musim-musim sebelumnya,” tutur dr Wardy.

Tidak ada lagi home tournament. Semua klub harus melakoni home and away. Bila tiap grup bermuatan 10 klub, maka setiap klub bakal melakoni 18 laga (standar minimum 15 laga per musim). Bagi juara grup yang lolos ke putaran final harus melakoni serangkaian laga lagi di tempat yang lebih jauh.

Liga Nusantara tidak mengenal strata lagi. Tidak ada lagi Divisi 3, Divisi 2, dan Divisi 1. Semua klub sederajat dalam satu strata. Karena itu, hampir pasti banyak klub yang akan berguguran dan mati karena tidak memiliki dana yang cukup untuk berkompetisi.

PSSI melebur semua kompetisi Divisi 1,2 dan 3 menjadi satu kompetisi Divisi Amatir, yang diberi nama Liga Nusantara. Liga Nusantara rencananya diikuti berbagai klub amatir di seluruh provinsi di Indonesia. Soal perekrutan klub di Liga Nusantara diserahkan kepada masing-masing Asosiasi Provinsi (Asprov).

Regulasinya, jika ada 10 klub amatir yang terdapat dalam satu provinsi maka akan diambil satu klub. Begitupun seterusnya, dengan kelipatan 10 berbanding 1. Jika dalam satu provinsi memiliki 20 klub amatir, maka akan diambil 2 tim untuk lolos ke putaran final.

JIKA KURANG DARI 10 KLUB?

Jika ada provinsi yang memiliki klub amatir kurang dari 10 klub, maka wakil dari provinsi tersebut akan mengikuti babak playoff dengan wakil dari provinsi lainnya. Hal ini dimaksudkan untuk mewadahi berbagai klub amatir agar bisa masuk ke kompetisi profesional dengan sistem yang sehat.

Liga Nusantara dibentuk lantaran banyak tim yang dulunya tergabung dalam liga tandingan Indonesia Super League (ISL) yaitu Indonesia Premier League (IPL).

Seiring dengan hasil Kongres PSSI di Hotel Borobudur, Jakarta pada bulan Maret 2013, maka kompetisi kasta tertinggi Indonesia kembali dijadikan satu format dalam ISL. Tim-tim yang pernah tergabung di IPL akan kembali diberikan kompetisi yang sesuai dengan tingkat kompetisi masing-masing klub

Langkah perubahan liga amatir mendapat berbagai respon, mengingat dalam perhelatan Liga Nusantara, para pemain yang ikut serta berasal dari semua umur, berbeda dengan Liga Amatir Divisi 1, 2, dan 3 yang menetapkan pembatasan umur pemain, mulai umur 21 hingga 23 tahun.

Mantan CEO BLAI, Syauqi Suratno, mengaku tidak mempermasalahkan perubahan kompetisi liga amatir yang dilakukan oleh PSSI, namun dirinya berharap agar pembinaan usia muda tetap dijaga, sehingga akan menjaga jenjang kompetisi tingkat bawah.

 "Ini menarik untuk dicoba, apalagi sebelumnya BLAI menjalankan pembinaan usia muda dengan menyertakan hampir 300 klub di Indonesia. Dan hari ini menjadi sejarah, karena PSSI merekomendasikan liga amatir yang berbeda dari yang sudah berjalan, yaitu menjalankan Liga Nusantara," tutur Syauqi.

Rencananya PSSI juga akan memutar turnamen U-19, U-17, dan U-15. Tampaknya, turnamen (sebaiknya kompetisi, red) inilah yang menjadi mesin utama pembinaan pemain remaja sepakbola nasional?  

“Peran Asosiasi PSSI Kota dan Kabupaten juga menjadi sangat penting bila mereka memutar kompetisi KU (kelompok umur). Askot dan Askab PSSI juga harus memiliki klub amatir yang diikutkan dalam Liga Nusantara. Bagi Askot dan Askab yang tidak memutar kompetisi KU dan tidak memiliki klub amatir, maka mereka pun akan lenyap tergilas roda revolusi,” tandas dr Wardy Ashari Siagian.*

 

Share this post